Minggu, 27 November 2011

Si Melani & Jembatan Tenggarong

sumber gambar ada pada : 
http://3.bp.blogspot.com/-K4-KgY68xOU/TdnLEoB4alI/AAAAAAAAAF8/aaenLhg0vtY/s1600/tenggarong.jpg


Kaget juga mendengar berita bahwa jembatan tenggarong ambruk, tahun 2002 saat sebuah perhelatan akbar olahraga beladiri diadakan di seberang jembatan tenggarong, saya sebagai pendatang baru di kota itu sempat terkagum-kagum melihat struktur bangunan itu, saya seakan-akan bermimpi berada di Jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Suatu anugerah tersendiri berangkat dengan tiket gratis lalu bertemu banyak orang dari berbagai daerah, ada dari Medan, Jakarta, Bandung, Papua, pokoknya semua wakil setiap provinsi berbaur saling menyapa lalu akrab berbagi cerita.

Sebagai pelaku olahraga jiwa sportifitasnya tentu sangat dijunjung tinggi, sebelum dan setelah pertandingan keakraban tetap terjalin, walau sempat ada protes keras saat pertandingan namun bisa diselesaikan dengan musyarawarah, inilah indahnya kompetisi sportif. Saat itu pada malam hari acara pembukaan yang diadakan di pulau Kumala, seorang gadis namanya Melani yang juga salah satu atlet dari Medan berkenalan denganku, entah dari sudut pandang apa sehingga ia mendekat dan mengajakku ngobrol.

Obrolan semakin jauh dan jauh lagi, ya!, tidak cukup lama kami langsung akrab, banyak hal yang diceritakannya, bahkan di Gedung Olahraga kami masih tetap bersama, sekedar memberikan minuman energi sebelum bertanding sangat lekat dalam ingatan.

Setiap malam kami janjian lalu jalan-jalan keliling kota Tenggarong, dan selalu berakhir di Jembatan Tenggarong. Disanalah kami menghabiskan waktu, ngobrol sambil memandang keindahan jembatan yang menjulang tinggi, kami berdua benar-benar kagum, bahkan jembatan Tenggarong menjadi saksi kebersamaan itu.

“Daeng, kalau semua atlet sudah pulang di daerah masing-masing, apakah kita juga pulang lalu esoknya tidak pernah ketemu lagi?, atau bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi?” Melani bertanya pelan.

“Melani, kenapa pikiran seperti itu muncul di benakmu?, saya juga tidak bisa memastikan, tapi dalam hati ini selalu ada niat ingin tetap bersamamu, bukankah cinta itu dapat menembus jarak?, biarkanlah Tuhan mengatur semua ini, kita berjalan saja, sambil memikirkan bagaimana nantinya” ucapku sambil menatap wajahnya yang terkena cahaya lampu yang indah.

“Kakak Daeng, iya sih, tapi aku ngak pingin aja berpisah terlalu cepat, pinginnya sih helatan akbar ini dilangsungkan selama setahun atau dilangsungkan setiap hari, hehe” senyumnya mulai menebarkan aroma canda.

“Dinda, kita yakin saja bahwa jodoh itu memang Tuhan yang mengaturnya, meski kita sangat ingin itu ingin ini tapi kalau Tuhan berkehendak lain apa daya kita?, tapi satu hal Dinda, cintaku ini setegak Jembatan Tenggarong dan seluas sungai Mahakam” tiba-tiba saja saya menjadi sang Pujangga akut, sambil menatap senyum Melani yang merona, lalu Sungai Mahakam dan Jembatan Tenggarong diam-diam melihat tingkah kami seolah-olah ingin tertawa sebab seorang atlet saat itu tiba-tiba berubah menjadi pujangga.

Jembatan Tenggarong adalah kenangan tersendiri bersama dengan si Melani. Setelah itu kami memang sering berkirim surat sebab saat itu kami belum tahu memakai email, sms saja agak jarang-jarang, menelpon pun harus jam-jam tengah malam agar dapat murah, wajar saja penjaga wartel saat itu sangat jengkel karna tinggal saya sendiri yang ada sedangkan si penjaga sudah mengantuk berat.

Kini sudah beberapa tahun berlalu, entah apakah fotoku dengannya saat berada di Jembatan Tenggarong masih disimpannya?, jembatan Tenggarong tidak tegak lagi bahkan rubuh, apakah cinta ini juga sudah tidak tegak dan rubuh seperti Jembatan Tenggarong?.

Alangkah indahnya jika cinta dibangun dengan kekuatan dari dalam nan tegak, seperti juga jembatan sebagai penghubung juga dibangun dengan landasan cinta, sungguh indah dan pasti kokoh.

Wahai Jembatan Tenggarong, kini dikau tinggal kenangan mungkin juga si Melani. Semoga semua ini mampu dan cepat diperbaiki. Dan turut belasungkawa kepada para korban, kuatkanlah  jiwa, kita tidak mampu memprediksi malapetaka kapan datangnya, namun kita ikhlaskan hati dan jiwa ini bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik, semua ada hikmahnya, semua ada hukum sebab akibat, dan sebagai manusia tentu punya banyak kekurangan, untuk mencukupkan kekurangan itu tentunya hanya pada sang Khalik bermunajat, amin.

#Prayforjembatantenggarong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar